Kultum Subuh

Beribadah Kepada Allah

Ustadz Sadmonodadi


 Ibadah secara singkat berarti segala bentuk ketaatan dan penghambaan kepada Allah yang dilakukan dengan penuh keikhlasan sesuai dengan syariat-Nya. Ibadah mencakup segala amalan lahir dan batin, baik dalam bentuk ritual yang telah ditentukan tata-caranya seperti shalat dan puasa (ibadah mahdhah) maupun dalam kehidupan sehari-hari seperti bekerja dan berbuat baik kepada sesame (ibadah ghairu mahdhah) selama dilakukan dengan niat karena Allah.

Ibadah kepada Allah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Namun, dalam beribadah, tidak hanya diperlukan kesungguhan dan ketulusan, tetapi juga adab yang baik agar ibadah diterima dan bernilai di sisi Allah. Berikut adalah beberapa adab dalam beribadah beserta dalil-dalilnya:

1.   Ikhlas dalam Beribadah

Ikhlas berarti mengerjakan ibadah hanya karena Allah tanpa riya, sum’ah atau mengharapkan pujian dari manusia.  Allah berfirman:

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ

"Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus..." (QS. Al-Bayyinah: 5)

2.   Mengikuti Sunnah Rasulullah

Jika merupakan ibadah mahdhah maka ibadah itu harus berpedoman pada   tuntunan Rasulullah . Rasulullah bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

"Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak." (HR. Muslim)

3.   Khusyuk dalam Beribadah

Khusyuk adalah menghadirkan hati dalam ibadah, sehingga ibadah dilakukan dengan penuh penghayatan.  Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ. ٱلَّذِينَ هُمْ فِى صَلَاتِهِمْ خَٰشِعُونَ

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya." (QS. Al-Mu’minun: 1-2)

4.   Beribadah dengan Rasa Cinta, Kerendahan hati, Takut dan Berharap kepada Allah

Ibadah yang benar harus didasari oleh tiga pilar utama: mahabbah (cinta kepada Allah), dzull (kerendahan diri), al-khauf (rasa takut), dan ar-rajâ (pengharapan).

·         Mahabbah (Cinta kepada Allah)
Cinta kepada Allah mendorong seorang hamba untuk beribadah dengan penuh keikhlasan dan kecintaan, tanpa keterpaksaan. Allah berfirman:

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ

“Dan orang-orang yang beriman lebih besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)

·         Dzull (Kerendahan Diri)

Seorang hamba harus menyadari bahwa ia lemah dan sangat bergantung kepada Allah. Ibadah adalah bentuk ketundukan dan penghinaan diri di hadapan-Nya. Allah berfirman:

وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ...

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong…” (QS. Al-Isra’: 37)

·         Al-Khauf (Rasa Takut kepada Allah)

Rasa takut kepada Allah mencegah seseorang dari perbuatan maksiat dan mendorongnya untuk taat. Allah berfirman:

وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Dan takutlah kamu kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 175)

·         Ar-Rajâ (Pengharapan kepada Allah)

Seorang Muslim harus selalu berharap rahmat, ampunan, dan pertolongan Allah dalam ibadahnya. Allah berfirman:

قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ

 “Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)

Kesempurnaan ibadah terletak pada keseimbangan antara cinta, takut, dan harapan. Jika hanya cinta tanpa rasa takut, bisa menjurus pada kelalaian. Jika hanya takut tanpa harapan, bisa membawa keputusasaan. Jika hanya berharap tanpa rasa takut, bisa membuat seseorang meremehkan dosa. Oleh karena itu, seorang Muslim harus menggabungkan ketiganya dalam setiap ibadahnya.

5.   Berdoa Sebelum dan Sesudah Ibadah

Berdoa merupakan tanda penghambaan seorang hamba kepada Allah dan meningkatkan kekhusyukan.

الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ

Rasulullah bersabda: "Doa adalah inti dari ibadah." (HR. Tirmidzi)

 

ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Allah berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu." (QS. Ghafir: 60)

6.   Menjaga Konsistensi dalam Beribadah

Beribadah harus dilakukan secara terus-menerus meskipun dalam jumlah yang sedikit.

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Rasulullah bersabda: "Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kesimpulan

Adab dalam beribadah sangat penting agar ibadah diterima oleh Allah dan memberikan manfaat bagi pelakunya. Dengan memperhatikan keikhlasan, mengikuti sunnah, bersuci, khusyuk, dan melaksanakan ibadah dengan baik, seorang Muslim akan semakin dekat dengan Allah dan meraih keberkahan dalam hidupnya. Semoga Allah menerima ibadah kita dan menjadikannya sebagai jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Aamiin.

 ----------------

 Download Versi PDF 

 


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama