Kultum Subuh
Keutamaan
10 Hari Terakhir
Bulan
Ramadhan
Ustadz
Sadmonodadi
B |
ulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah dan
ampunan, di mana setiap ibadah yang dilakukan akan mendapatkan pahala yang
berlipat ganda. Sepanjang bulan ini, umat Islam berusaha meningkatkan amal
ibadah, seperti puasa, shalat, membaca Al-Qur’an, dan sedekah. Namun, dari
keseluruhan bulan Ramadan, 10 hari terakhir memiliki kedudukan yang sangat
istimewa. Hari-hari ini merupakan kesempatan emas bagi setiap Muslim untuk
meraih keberkahan, ampunan, dan ridha Allah SWT.
Rasulullah ﷺ memberikan perhatian khusus terhadap 10
hari terakhir Ramadan dengan meningkatkan ibadah dan menganjurkan umatnya untuk
melakukan hal yang sama. Pada waktu ini, terdapat malam yang lebih baik dari
seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadar. Selain itu, Rasulullah ﷺ juga mencontohkan amalan-amalan utama yang
sebaiknya dilakukan di waktu ini, seperti i’tikaf dan memperbanyak doa serta
istighfar. Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap Muslim untuk
memanfaatkan 10 hari terakhir ini dengan sebaik-baiknya.
Rasulullah ﷺ memberikan perhatian lebih terhadap
hari-hari ini dengan meningkatkan ibadah dan menganjurkan umatnya untuk
memanfaatkannya sebaik mungkin. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau
berkata :
إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ أَيْ:
اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ,
وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir,
beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya),
menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan
istri-istrinya untuk beribadah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari no. 2024
dan Muslim no. 1174).
Diantara anjuran Rasulullah SAW di sepuluh akhir
Ramadhan adalah :
1.
Mengejar Malam Lailatul Qadar
Salah satu keistimewaan terbesar
dari 10 hari terakhir Ramadan adalah adanya malam Lailatul Qadar, yang lebih
baik dari seribu bulan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةِ
ٱلْقَدْرِ وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا لَيْلَةُ
ٱلْقَدْرِ لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ
أَلْفِ شَهْرٍ
"Sesungguhnya Kami
telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apa
malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. Al-Qadr: 1-3)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا
وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melaksanakan shalat
pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka
dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)
Malam Lailatul Qadar adalah malam
yang penuh rahmat, di mana para malaikat turun ke bumi dan segala doa yang
dipanjatkan akan dikabulkan oleh Allah SWT.
2. Melaksanakan i’tikaf
Pada 10 hari terakhir Ramadan,
Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan umatnya untuk
beritikaf di masjid. I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk memperbanyak
ibadah, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ibadah i’tikaf bertujuan mulia yaitu
untuk menggapai malam lailatul qadar yang punya keutamaan ibadah yang dilakukan
lebih baik daripada 1000 bulan. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau
berkata :
كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ
اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ
أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Adalah Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan
Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau
beri’tikaf setelah beliau wafat. Muttafaqun ‘alaih. (HR.
Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172).
I’tikaf menjadi salah satu cara
terbaik untuk memperoleh malam Lailatul Qadar dan memperbanyak amal saleh di
akhir Ramadan.
3. Memperbanyak istighfar dan taubat
10 hari terakhir Ramadan adalah
kesempatan besar untuk mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Pada hari-hari itu dianjurkan
untuk memperbanyak doa, terutama doa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ:
Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-,
ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut
adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?”
قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ
تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
Jawab Rasul shallallahu
‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul
‘afwa fa’fu’anni (artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau
suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah
dosa-dosaku–).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Maka dari itu, memperbanyak ibadah,
istighfar, dan taubat di hari-hari ini sangat dianjurkan agar mendapat rahmat
dan ampunan dari Allah SWT.
4. Meningkatkan Sedekah dan Amal Shalih
Selain ibadah ritual, sepuluh hari
terakhir Ramadhan juga menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan sedekah.
Memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan, menyantuni anak yatim, serta
membantu sesama adalah cara untuk meraih keberkahan di bulan suci ini.
Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin
meningkat di bulan Ramadhan.
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ (أَجْوَدَ) مَا يَكُونُ
فِي رَمَضَانَ
“Rasulullah SAW adalah orang paling murah
hati. Ia semakin murah hati di bulan Ramadhan.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Kesimpulan
10 hari terakhir Ramadan adalah waktu yang sangat
berharga bagi setiap Muslim. Dengan adanya malam Lailatul Qadar, sunnah
i’tikaf, pengampunan dosa, dan doa yang mustajab, maka sangat dianjurkan bagi
umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah mereka. Semoga kita termasuk
hamba-hamba yang mendapatkan berkah dan ampunan di bulan Ramadan ini. Aamiin.
---------
Posting Komentar