Kultum Subuh
Melanggengkan
Amal Ramadhan
Ustadz
Sadmonodadi
Pendahuluan
S |
aat ini, bulan Ramadhan
hampir mencapai penghujungnya, mendekati kesempurnaan bilangan hari yang telah
Allah tetapkan. Waktu yang begitu berharga ini telah berlalu dengan segala amal
dan usaha yang dilakukan oleh setiap hamba. Beruntunglah mereka yang telah
mengisi hari-hari Ramadhan dengan penuh keimanan dan kebaikan—mengerjakan
ibadah dengan sungguh-sungguh, memperbanyak doa, serta mendekatkan diri kepada
Allah SWT. Amal mereka, insyaAllah, akan menjadi bekal berharga yang
mengantarkan mereka menuju kebahagiaan abadi di Surga.
Namun, bagi siapa saja yang
merasa kurang bersungguh-sungguh dalam menjalani Ramadhan, hendaknya memperbanyak istighfar dan bertaubat kepada
Allah SWT. Hendaknya mereka kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan dan
niat yang tulus. Dengan harapan dan doa, semoga Allah SWT berkenan mengampuni
segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuat serta memberikan kesempatan
untuk memperbaiki diri di masa yang akan datang.
Jangan menjadi
Ramadhaniyun.
Sebagian orang beribadah di
bulan Ramadhan secara khusus. Mereka menjaga shalat-shalatnya di masjid-masjid,
memperbanyak baca Al-Quran, dan menyedekahkan hartanya. Lalu ketika Ramadhan
usai, mereka bermalas-malasan, kadang-kadang mereka meninggalkan shalat Jum’at
dan tidak berjama’ah. Mereka itu telah merusak apa yang telah mereka bangun
sendiri, dan menghancurkan apa yang mereka bina. Seakan-akan mereka menyangka,
ketekunannya di bulan Ramadhan itu bisa menghapuskan dosa dan kesalahannya
selama setahun. Juga mereka anggap bisa menghapus dosa meninggalkan
kewajiban-kewajiban dan dosa melanggar hal-hal yang haram.
Mereka tidak menyadari bahwa
penghapusan dosa karena berbuat kebaikan di bulan Ramadhan dan lainnya itu
hanyalah terhadap dosa-dosa kecil dan itupun terikat dengan menjauhkan diri
dari dosa-dosa besar.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ
عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا (31)
Artinya: “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang
kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang
kecil).” (An-Nisa’:31).
Nabi saw bersabda,
الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ
لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ .
Artinya: “Shalat lima waktu dan shalat Jum'at ke Jum'at berikutnya adalah
penghapus untuk dosa antara keduanya selama tidak melakukan dosa besar.”
(HR. Muslim dari Abi Hurairah)
Ketekunan mereka di bulan Ramadhan
tidak ada gunanya sama sekali bagi mereka jikalau mereka melanjutkannya dengan
kemaksiatan-kemaksiatan berupa meninggalkan kewajiban-kewajiban dan melanggar
larangan-larangan Allah Ta’ala.
Sebagian ulama salaf ditanya
tentang kaum yang tekun beribadah di bulan Ramadhan, tetapi setelah usai,
mereka meninggalkannya dan berbuat buruk. Maka dijawab: Seburuk-buruk kaum
adalah yang tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadhan. Ya, benar. Karena
orang yang mengenal Allah tentunya ia akan takut kepada-Nya setiap waktu (dan
bukan hanya di bulan Ramadhan).
Istiqomah dalam berbuat baik
Orang-orang yang beriman
hendaklah tetap menjaga dan memperindah amal shalihnya setelah Ramadhan
berlalu. Hal itu karena keberlanjutan amal ibadah itu merupakan tanda bahwa
amalnya diterima Allah SWT : Inna min jaza'il hasanah, al-hasanatu ba'daha –
sungguh diantara balasan kebaikan adlah kebaikan selanjutnya.
Agar kita tetap bisa
istiqomah melanjutkan ibadah Ramadhan ada beberapa hal yang bisa kita lakukan.
Diantaranya adalah :
Pertama, jangan sampai meninggalkan perkara wajib dalam agama.
Dalam agama, ada kewajiban
yang harus kita lakukan. Kewajiban-kewajiban ini, jika kita tinggalkan, dapat
merendahkan bahkan bisa menggugurkan status kita sebagai seorang Muslim. Shalah
satu yang terpenting adalah hendaklah kita senantiasa melaksanakan sholat
dengan menjad rukun, wajib dan kesempurnaannya.
Hendaknya kita senantiasa mengingat Surah Al-Mudatsir ayat 42-43, ketika
penduduk neraka ditanya oleh penduduk surga:
"Maa salakakum fii
saqar?" – "Apa yang menyebabkan
kalian masuk ke dalam neraka Saqar?"
Mereka menjawab: "Lam nakuu minal mushollin" – "Dulu kami
tidak melaksanakan shalat."
Kedua, agar kita dapat istiqamah dalam menjaga status kita sebagai
hamba yang taat, kita harus menjaga konsistensi dalam beribadah, meskipun
terasa kecil.
Di bulan Ramadhan, kita bisa melakukan banyak amal saleh. Akan lebih baik jika
kita melanjutkan amal-amal tersebut, sedikit maupun banyak. Sebagian dari
amalan Ramadhan hendaknya kita jadikan sebagai amalan harian yang tidak pernah
kita tinggalkan.
Contohnya: membaca Al-Qur'an meskipun hanya satu halaman, berinfak atau
bersedekah meskipun hanya seribu rupiah, shalat malam meskipun hanya tiga
rakaat, serta amalan-amalan lainnya. Insya Allah, jika kita membiasakan diri
dan menjaga konsistensinya, Allah akan membukakan pintu-pintu kebaikan lainnya
bagi kita.
Ketiga, berteman dengan orang-orang saleh.
Teman memiliki pengaruh besar
terhadap pribadi seseorang. Jika kita dekat dengan orang-orang saleh, kita akan
tertular kebaikannya. Ada pula pepatah dalam bahasa Arab mengatakan : "Husnul
khuluq yu’dii" – "Akhlak baik itu menular." Demikian pula
sebaliknya : "Su’ul khuluq yu’dii" – "Akhlak buruk itu menular."
Kemudian yang terakhir, perbanyaklah berdoa agar kita menjadi hamba yang selalu taat.
Di antara doa yang diajarkan Rasulullah SAW agar kita amalkan setiap ba’da
sholat adalah :
"Allahumma a’inni ‘alaa
dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika."
اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ
عِبَادَتِكَ
[Ya Allah, tolonglah aku agar
selalu mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu].” (HR.
Abu Daud dan Ahmad).
Semoga Allah memudahkan kita
dalam menaati perintah-Nya, mempermudah segala urusan kita, baik urusan dunia
maupun agama. Semoga Allah memudahkan jalan kita.
-------
---------------
Posting Komentar